Setelah di awal tahun sebelum pandemi melanda, Pixar telah merilis Sebuah kisah tentang perjalanan kakak dan adik dengan usaha menemui adiknya. Di akhir tahun, Pixar juga menyiapkan satu kisah terbaru lagi untuk bisa dinikmati oleh penggemarnya. Ya, Soul, project milik Pete Docter ini harusnya bisa dinikmati di layar besar di bulan Juni 2020 kemarin. Tetapi, dengan situasi dan kondisi yang belum juga membaik, Disney memutuskan untuk memindahkan Soul ke jadwal rilis yang lebih aman.

Tetapi, bukan lagi menjadi film yang dirilis di bioskop. Soul harus rela dan puas dirilis dalam streaming platform pribadi milik Disney yaitu Disney+. Yes, Soul hadir untuk memeriahkan Hari Natal tahun 2020 kemarin karena rilis bertepatan di tanggal 25 Desember 2020. Pete Docter sepertinya memang tertarik dengan kehidupan di lain dimensi seperti yang dia kulik lewat Inside Out. Bukan tentang perasaan, tetapi Soul mengulik kisah tentang:


“Bagaimana ya proses jiwa-jiwa manusia sebelum lahir ke dalam kehidupan aslinya?”


Bisa saja premis dari kisah yang diangkat di dalam film Soul ini berangkat dari satu pertanyaan menggelitik ini. Akhirnya, Soul hadir menjadi satu fitur film yang dibintangi oleh beberapa nama menarik yang terlibat. Dari Jamie Foxx hingga Tina Fey. Pete Docter juga menulis sendiri kisah tentang kehidupan tentang jiwa-jiwa manusia ini.



Hasilnya, Soul menjadi salah satu karya dari Pixar yang bisa dibilang lebih dewasa dibanding film-film yang lainnya. Bila Inside Out pun mengulik tentang perasaan anak kecil yang sedang berkembang. Soul hadir untuk mengingatkan para manusia paruh baya untuk bisa semangat menjalani hidupnya yang terkadang sudah mulai hilang arah. Ya gimana tidak, kisahnya saja diantarkan dengan karakter orang dewasa yang mulai merasakan krisis identitas di dalam hidupnya. 


Dia adalah Joe Gardner (Jamie Foxx), seorang Musisi yang terjebak dalah kehidupan orang dewasa yang menuntutnya untuk hidup dengan lebih Mawas diri. Dia tetap menjalani kehidupan dengan passion-nya yaitu musik. Tetapi, dia hanyalah menjadi guru musik yang terjebak di situasi itu-itu saja. Hingga akhirnya, sebuah panggilan telepon akan mengubah hidupnya.


Salah satu mantan muridnya, mengajaknya untuk bisa tampil dengan musisi yang dia idamkan, Dorothea Williams. Joe diminta hadir untuk bisa menunjukkan kemampuannya dalam bermain musik Jazz seperti yang biasa dia lakukan. Pada akhirnya, Joe berhasil mendapatkan panggung pertamanya untuk main musik di depan umum. Tetapi, di saat perjalanan pulang dan di mana Joe sedang bahagia-bahagianya, dia malah terjatuh ke dalam lubang pembangunan jalan. Hal ini membuat dirinya koma dan jiwanya tersesat di dunia lain.



Lantas, seperti apa perjalanan Joe setelah memasuki dunia penuh jiwa ini?


Di tengah usahanya untuk bisa kembali ke tubuhnya, kisah Joe di dalam Pixar’s Soul akan memberikan perjalanan yang akan membuka mata penontonnya. Menyampaikan pesan tentang kehidupan yang sangat bermakna bagi penonton-penonton yang sedang mengalami krisis dalam hidupnya. Ya, Pixar mungkin berusaha mendobrak paradigma untuk menggunakan mediumnya— yaitu film animasi— untuk bisa dinikmati oleh penonton dewasa. Tujuan film animasi bukan sebatas memberikan kisah-kisah yang dinikmati oleh penonton anak kecilnya. Serta, film animasi bukan juga untuk menuntun bagaimana anak-anak harus berperilaku.


Lewat Pixar’s Soul, Pete Docter tak memberikan limitasi tentang film animasi harus seperti apa. Dia menceritakan apa yang ingin dia sampaikan dengan medium yang dikuasainya. Hasilnya, film ini memberikan perjalanan yang sangat thoughtful. Apa sih yang kamu mau dalam hidup? Bukankah bertahan dalam kehidupan yang suka ada-ada saja itu sudah lebih dari cukup? Nah, pertanyaan ini yang berusaha dijawab oleh Pete Docter lewat Pixar’s Soul.


Belum jatuh terlalu dalam untuk hadir sebagai film animasi yang terlampau depresif. Mungkin, karena Pixar masih berada di bawah naungan Disney dan masih ingin kisah-kisahnya diterima oleh target segmentasi anak-anak. Pixar’s Soul menyajikan petualangan tentang kehidupan yang masih menyenangkan. Masih menyajikan desain-desain animasi yang menggemaskan dengan warna-warnanya yang colorful ketika berada di The Great Beyond dan The Great Before sebagai settingnya.



Tetapi ketika berada di kehidupan dewasa milik Joe, Pixar’s Soul berusaha untuk menyajikan animasi yang lebih realistis. Dengan penataan kamera dalam film-film animasinya terasa seperti film-film live action yang dengan pencahayaan yang lebih moody. Penuturan kisah yang dilakukan oleh Pete Docter di film Soul mungkin tidak akan sekompleks Inside Out. Ini adalah cara Pete Docter untuk menyampaikan kisah tentang kehidupannya. Mungkin, tahu bahwa membicarakan persoalan kehidupan itu akan menyita waktu dan tenaga. Menyampaikan filmnya pun harus sesantai mungkin agar pesannya bisa diterima dengan maksimal oleh penontonnya.


Benar saja, Pixar’s Soul pun menyajikan kisahnya dengan ringan lewat cerita body swap yang ada di dalam film ini. Menyenangkan mengikuti perjalanan Joe dan si gemas, Mr. Mittens untuk menjadi melihat dunia dan kehidupan di sekitarnya. Naskahnya seakan tak berusaha untuuk pretensius layaknya Inside Out. Tetapi, setelah menonton film ini dampak yang dihadirkan akan lebih bermakna. Ya, seakan Pete Docter berusaha untuk membuat filmnya juga sama bermaknanya dengan kehidupan yang dijalani oleh Joe dan bisa diaplikasikan kepada kehidupan penontonnya.


Bukan film Pixar namanya apabila tidak menyelipkan adegan-adegan emosional yang bisa membuat penontonnya merenung atau bisa menjatuhkan air mata. Yes, Pixar’s Soul tentu memiliki adegan-adegan tersebut. Tetapi, rasanya kali ini berbeda dengan film-film Pixar yang lain. Bukan adegan emosional yang akan memberikan perasaan sedih, tetapi perasaan lega. Menontonnya akan membuat penonton untuk berkontemplasi akan kehidupannya, merenungkan apa yang sudah pernah dilakukan. Lalu, membawa penonton untuk bisa menangis bahagia di akhir film karena seakan ikut sudah menemukan sparks dalam hidup mereka seperti karakter Joe dan 22 di dalam film ini.



Keindahan dari Pixar’s Soul dilengkapi dengan scoring dari Trent Raznor & Atticus Ross yang berkolaborasi dengan musik Jazz dari Jon Batiste. Memperkuat segala vibe Jazz tetapi juga bisa memperkuat nuansa dunia The Great Beyond dan The Great Before dengan musik techno yang terasa futuristik ini. Menjadikan setiap perjalanannya memiliki musik temanya masing-masing ditutup dengan lagu It’s Alright yang dilantunkan oleh Jon Batiste berkolaborasi dengan Celeste untuk menutup filmnya.


Maka dari itu, Pixar’s Soul adalah sebuah perjalanan menelusuri arti tentang kehidupan yang lengkap. Tak sekedar perjalanan yang menyenangkan untuk diikuti. Tetapi juga memberikan arti tentang kehidupan yang sangat bermakna sekaligus dibawa ke dunia imajinatif Pixar dan sangat emosional. Layaknya kehidupan yang kamu jalani sekarang. Meski banyak naik turunnya, tapi tetap sebuah perjalanan yang layak kamu nikmati segala prosesnya. Ya, Pixar’s Soul pun berusaha untuk terlihat demikian. Bagus sekali!

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama