“I was busy thinking ‘bout boys.”

Opening dimulai dengan lagu milik Charli XCX berjudul Boys terdengar dengan setting di dalam sebuah club penuh gemuruh pesta. Shot kamera diarahkan kepada segala lekuk tubuh laki-laki hingga ke bagian personalnya. Seakan film ini memperjelas ke mana film ini ditujukan dan diarahkan. Apabila, seringnya laki-laki menggunakan point of view mereka dalam mengarahkan kameranya kepada perempuan. Kali ini, laki-laki lah yang mendapatkan treatment yang sama.


Begitulah adegan pembuka dari Promising Young Woman yang seakan mempertegas bagaimana film ini nantinya akan berlanjut. Dari bagaimana pengambilan gambar saja sudah jelas bahwa film ini akan menyorot tentang perempuan dan balas dendam. Bagaimana perempuan juga punya kekuatan yang sama untuk memperlakukan laki-laki dengan cara yang sama. Sehingga, di 115 menit ke depan, persoalan dari film ini juga akan membahas tentang perempuan dan problematikanya dengan society yang ada.


Promising Young Woman ini diarahkan oleh Emerald Fennell yang juga seorang perempuan. Tak hanya sebagai sutradara, tetapi dirinya juga memiliki kendali untuk menuliskan naskah filmnya. Dalam penulisan cerita, dirinya sudah memiliki jam terbang lewat serial Killing Eve. Tetapi, dalam mengarahkan sebuah film layar lebar dan menulisnya, ini adalah kali pertama untuk Emerald Fennell. Tetapi, lewat adegan pembuka saja, film ini sudah banyak menaruh perhatian.



Film ini juga dibintangi oleh Carey Mulligan yang berperan sebagai Cassie, sang pemeran utama di dalam film ini. Diramaikan juga oleh beberapa nama lain mulai dari Bo Burnham, Laverne Cox, Clancy Brown, Jennifer Coolidge, hingga Alison Brie dan Max Brody. Nama-nama ini berperan sebagai pendukung karakter utamanya untuk bersinar. Diperkuat dengan performa Carey Mulligan yang tak terhentikan, Promising Young Woman menjadi film balas dendam yang sangat menarik untuk diikuti.


Ini adalah kisah tentang seseorang bernama Cassie (Carey Mulligan), perempuan yang pernah mengenyam pendidikan kedokteran ini bekerja di sebuah coffee shop kecil di usianya yang memasuki 30 tahun. Tetapi, dia memang sedang berusaha menikmati hidupnya sendiri. Selain itu, dia juga memiliki misi dalam hidupnya yang memiliki hubungan dengan masa lalunya.


Membalaskan dendam. Hal itu yang ingin dia lakukan untuk membalaskan dendam tentang sahabatnya, Nina yang meninggal saat berada di sekolah. Dia menjadi korban atas tidak bisa dikontrolnya hasrat laki-laki dan berujung pemerkosaan secara publik. Tetapi, kasus ini seakan tidak dilanjutkan oleh pihak sekolahnya. Mereka dipaksa diam dan berujung Cassie dan Nina harus keluar dari sekolah. Hingga di saat waktunya tepat, Cassie memulai aksi balas dendamnya.



Film ini memulai rencana balas dendamnya perlahan. Pembalasan dendamnya bukan kepada para pelaku awalnya. Tetapi, ingin memberikan sebuah ‘awareness’ tentang rape culture kepada para pria-pria hidung belang yang ingin melakukan tipu daya kepada perempuan yang sedang dalam keadaan tidak sadar di sebuah bar. Menilik dan mempelajari segala background karakternya agar penonton bisa terasa dekat dengannya. Setelah di satu poin di mana Cassie bertemu dengan Ryan (Bo Burnham) yang juga berada di satu sekolah kedokteran barulah tensi film ini mulai naik perlahan.


Mengikuti segala rencana-rencana balas dendam seorang perempuan dengan masa lalunya yang kelam di film ini bisa sangat-sangat menyenangkan. Dilakukan dengan cara-cara yang intimidating dan bisa memperlihatkan bagaimana maskulinitas laki-laki sebenarnya bisa terlihat sangat rapuh. Cassie sebagai perempuan yang sangat lantang dan vokal atas suaranya ini bisa jadi ancaman bagi para lelaki yang ingin berlaku jahat padanya.


Film ini juga menggambarkan sebuah ketimpangan lewat tata artistik dengan cerita. Menggunakan warna-warna pastel yang lucu, menawan, dan enak dipandang mata. Tetapi, cerita film ini bergerak ke jalur yang lebih dark dan dalam dari warna-warna yang terlihat dipermukaan. Seperti perempuan itu sendiri yang juga memiliki kekuatan dan haknya untuk bisa tampil serta melakukan apa saja sesuai keinginan mereka.



Emerald Fennell sebagai sutradara perempuan bisa untuk menyampaikan suaranya tentang fenomena yang sering terjadi di perempuan itu sendiri. Bahkan, fenomena tentang rape culture ini terkadang juga sering diremehkan oleh perempuan itu sendiri karena sering termakan oleh kedigdayaan laki-laki yang menormalisasi hal tersebut. Sehingga, diperlihatkan oula beberapa target oleh Cassie ini juga adalah seorang perempuan di mana mereka seharusnya saling menguatkan. Tetapi, dalam realitanya, mereka juga secara tak sadar belum aware betul dengan isu tersebut.


Dari segala hal yang terlihat saklek tentang perempuan dan isu tentang rape culture yang sudah lantang dibicarakan dari awal. Satu hal yang membuat film ini mungkin sedikit bertentangan. Bagaimana paruh terakhirnya yang sedikit problematik. Keputusan yang terjadi dalam karakter Cassie ini sendiri terasa mengganjal. Meski sudah sedikit dipatahkan di konklusi paling akhirnya yang seakan memperlihatkan bahwa kekuatan perempuan masih bisa saja terasa meski secara fisik tidak terlihat. Tetapi, hal ini mungkin bisa saja diterjemahkan salah dan mengglorifikasi hal lain yang berada di luar konteksnya.



Tapi, di luar hal itu, Promising Young Woman tetaplah sebuah revenge thriller yang unik dan menarik. Membahas isu yang relevan tentang perempuan dan diarahkan oleh perempuan, setidaknya suaranya bisa terwakili dan bisa menggambarkan keadaan dengan lebih konkrit. Didukung dengan performa Carey Mulligan yang seduktif, kuat, tapi juga terlihat rapuh ketika dia mau, menjadikannya terlihat lebih manusiawi. Belum lagi pemilihan lagu-lagu dan musiknya yang juga menghipnotis membuat film ini menjadi debut yang menjanjikan dari Emerald Fennell.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama