Remaja dan eksplorasi terhadap tubuhnya. Menjadi sebuah persoalan yang mungkin akan terus terjadi selama mereka tak memiliki ruang untuk bisa mempelajarinya dengan tepat. Realita-realita tentang remaja dan kehidupan seksualnya yang beberapa tak ada yang mengerti dengan benar inilah yang perlu disebarkan. Dengan tujuan, memberikan realita kepada orang lain bahwa masih ada banyak orang-orang yang belum terpapar benar terhadap pendidikan seks.


Film dengan beragam fungsi, menjadi salah satu medium untuk memberi gambaran tentang realita yang ada. Mungkin dengan dasar inilah, Eliza Hittman membuat karya terbarunya. Never Rarely Sometimes Always, karya terbarunya ini tak hanya bertanggungjawab di kursi sutradara saja. Tapi, dia juga bertanggungjawab atas naskah di filmnya. Menarik, karena film ini pun menyoroti kehidupan karakter utama perempuan yang diperankan oleh Sidney Flanigan.


Menarik mendapatkan kisah tentang perempuan yang ditulis sendiri oleh perempuan. Karena pasti ada sensitivitas yang berbeda yang tak mungkin didapatkan dari sutradara dengan jenis kelamin berbeda. Seakan ini adalah medium bagi perempuan untuk menyuarakan pendapat dari sudut pandang mereka. Begitu pula yang terjadi di film Never Rarely Sometimes Always. Menyoroti problematika remaja perempuan yang sedang kehilangan arah saat menemui dirinya sedang hamil.



Ya, film ini dimulai dari masalah milik remaja perempuan usia 17 tahun bernama Autumn (Sidney Flanigan). Entah setelah berhubungan dengan siapa, di film ini diceritakan dia telah mengandung seorang bayi berumur 10 minggu kata klinik dekat rumahnya. Tapi, Autumn memutuskan untuk tak mempertahankan anak yang ada di dalam kandungannya. Dia berusaha melakukan aborsi agar bisa meneruskan hidupnya sebagai remaja SMA yang memasuki tahun terakhir sekolahnya.


Autumn pun tak memberitahukan perihal kehamilannya dengan keluarganya. Tapi, Autumn berusaha menceritakan problemnya ini ke sepupunya bernama Skylar (Taila Ryder). Tak berusaha untuk malah menilai perbuatan Autumn, Skylar berusaha mendukung apa yang ingin dilakukan oleh Autumn. Pergilah dia ke tempat di mana Autumn bisa ‘menghilangkan’ kandungan yang ada di dalam perutnya.



Memfokuskan filmnya ke masalah perempuan dengan tubuhnya.

Seperti yang sudah dibilang di sinopsis tadi, tak ada cerita tentang bagaimana Autumn bisa mengandung anaknya. Bersama siapa dia telah melakukan hubungan intimnya. Tapi, Never Rarely Sometimes Always ini lebih fokus terhadap Masalah Autumn dengan dirinya, dengan keputusan dalam hidupnya. Eliza Hittman seperti menggunakan filmnya sebagai medium perempuan untuk bersuara.


Menggunakan Autumn sebagai karakter yang bisa diasosiasikan dengan problematika perempuan yang relevan dengan kondisi masa kini. Di mana dia tetap teguh dengan pendiriannya, teguh akan pilihannya untuk menentukan hidupnya bakal seperti apa. Penonton akan diajak ke perjalanan Autumn yang atmosfirnya cukup gelap. Tetapi, Eliza Hittman tetap bisa memberikan ruang bagi penonton untuk bisa menaruh simpati terhadap karakternya.


Ini didukung dengan performa dari Sidney Flanigan yang bisa menghinoptis penontonnya. Mungkin tak banyak bicara, tapi subtlety dalam permainan perannya bisa mengungkapkan segala keresahan dalam dirinya. Memperlihatkan kebingungan, kehampaan, dan kecemasan karakter Autumn tanpa harus terlihat meluap-luap. Biarkan pula masalah di sekitar karakternya berkembang dan pada akhirnya sang karakter utamanya ini bisa mulai perlahan-lahan terbuka. Memeluk segala masalah dan trauma dari dalam dirinya hingga bisa melepaskan segala keresahannya.


Never. Rarely. Sometimes. Always. Empat kata yang menyusun menjadi judulnya ini ternyata berperan penting menjadi kunci di dalam filmnya. Autumn yang sudah lama memendam perasaan hanya bisa mengungkapkan apa yang dia rasa lewat empat opsi kata ini dalam yang biasa muncul dalam survey. Hingga pada akhirnya, penonton bisa mengetahui apa yang menyebabkan Autumn memutuskan untuk mengugurkan kandungannya.



HER LIFE. HER CHOICE. HER DECISION.

Mungkin itu juga yang pas menggambarkan film ini. Setelah filmnya berakhir pun, tak ada mengulik lagi seperti apa kehidupan Autumn setelahnya. Ini murni sebagai pengingat, sebagai medium bagi sang sutradara untuk lebih fokus terhadap problem yang dihadapi oleh seorang perempuan. 


Mereka hidup dengan penuh ancaman, kekerasan, dan kontrol atas tubuh serta keputusannya. Laki-laki dan kuasanya memiliki kontrol atas perempuan. Tetapi, perempuan sendiri tak pernah punya ruang untuk bergerak, mengekspresikan dirinya, memiliki kontrol pula atas dirinya. Yang mereka butuhkan pun sederhana. Mereka butuh ruang untuk menyampaikan suaranya, mereka butuh perempuan yang juga tahu akan perjalanannya. Mereka juga butuh perempuan yang memberikan support agar dirinya tahu bahwa dia tidak sendirian. Seperti yang dilakukan oleh Skylar kepada Autumn di film ini.


Maka, penting untuk menonton Never Rarely Sometimes Always ini. Sebuah film yang mungkin akan menampar penontonnya. Menyusuri realita kehidupan yang gelap tentang perempuan dan tubuhnya hingga bagaimana perempuan mengambil keputusan dalam hidupnya. Setelah nonton pun, penonton akan merasa dihantui dengan penuturan filmnya yang lembut tapi berdampak sangat besar. Salah satu film penting dan terbaik di tahun ini.


Available on HBO MAX


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama